Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Ku Rebut

Ku rebut ombak dari laut,
agar kau bisa dengar deburnya dari dadaku,
yang melebur dalam debar.

Ku rebut desau dari angin,
agar kau bisa rasakan risau,
yang juga ku rasakan dari suara-suara parau dalam jiwaku.

Ku rebut sepi dari malam,
agar sempurna rinduku dalam sujud doa-doa yang diam.

Cawang, 20 Februari 2015

Barangkali Jika Tak Ada Rindu

Barangakali jika tak ada rindu,
daun kepada tanah,
tanah kepada pati,
pati kepada akar,
akar kepada pohon,
pohon kepada hujan.
Tak akan ada sungai gunung pada lautan.

Barangkali jika tak ada rindu,
nabi kepada jibril,
jibril kepada alah,
alah kepada ruh,
ruh kepada jasad.
Tak akan ada degub cintaku kepada mu.

Kau, kau, aku ada.

Cawang, 31 Januari Desember 2015

Jakarta Jangan Lari Buru-Buru

Jakarta jangan lari buru-buru,
kalau kakimu luka-luka,
atas nama pembangunan kau gusur orang-orang pinggiran kota,
mengatasi macet kau bongkar lapak-lapak kaki lima,

pasar-pasar kumuh kau bakar karena mengganggu pemandangan,
gelandangan kau razia demi keamanan.

Jakarta jangan lari buru-buru,
mengejar modernisasi,
sepeda motor dilarang masuk jalan protokol, mungkin karena kau malu dengan tamu-tamu investor asing, lalu kau pinggirkan
orang-orang miskin.

Luka-lukamu, luka-luka penghunimu,
kakimu becek bau,
tak ada lagi tempat berkaca karena kali dan selokan telah hitam air comberan.

Buat apa kemajuan yang menghiraukan kemanusiaan,
buat apa pembangunan yang tak berkeadilan.

Jakarta jangan lari buru-buru.
Aku tak mau terseret dalam nistamu

Jakarta, 6 Januari 2015 22:42

Di Malam Natal

di malam natal,
teringat cerita perawan suci bunda maryam,
di malam sunyi, lahir anak tuhan

jemaat gereja bernyanyi, puji-pujian
ditutup perjamuan kudus

di luar gerimis, angin mengendus
rindu tunggak pohon jati kepada hujan

di malam natal,
aku mengingat segala hal tentang kelahiran,
rumah dan ibuku yang ku rindukan.

Jakarta-Jogja, 24 Desember 2014

Untuk Ibu

Di ranjang basah air ketuban,
sepanjang jalan setapak becek hujan,
dan linangan air mata itu,
ibu,
doa-doamu, doa-doaku bersahut-sahutan hingga akhir persembahan.

Cawang, 22 Desember 2014 20:34

Berserah

Di ujung kemarau september dan lengkung sabit rembulan dzulhijah,
kekasih wahai udara lembut padang sabana,
sentuhlah daun-daun rinduku, gugur ke permukaan danau biru.

Apa yang tidak ku mengerti tentang nasib, sama dengan musim yang hanya bisa diraba,
maka sentuhlah aku dengan nafasmu, gugurlah daun-daun rindu,
tinggal ranting-ranting kering yang pasrah pada musim.

Dan aku akan belajar lagi,
bahwa berserah adalah kekuatan,
sebelum musim ini berganti.

Karawang, 28 september 2014 21:31

Kepada Proklamator

Apa kabar bung-bung di peristirahatan?
Sehat bung?

Malam itu jum'at legi, menjelang sahur di meja makan tuan Laksamana Maeda, diawasi tentara jepang yang setengah mabuk ; Bung rumuskan teks proklamasi yang kini telah enam puluh sembilan tahun usia kemerdekaan. Malam sebelumnya, kau bung bersama istri dan anak bayimu (Guntur) diculik tiga orang pemuda gila didikan Bapak Republik Tan Malaka, ke Rengasdengklok di Karawang.

Mungkin bung-bung bisa melihat sendiri, negara yang bung merdekakan kini telah banyak mengalami kemajuan.

Tempat dulu bung-bung rapat kemerdekaan di kawasan Harmoni kini telah menjadi kawasan elit pertokoan, rumah bersejarah di Menteng tempat bung-bung merumuskan proklamasi kini menjadi museum tua dan sepi seolah murung melihat pembangunan : kawasan apartemen mewah lengkap dengan kolam renang dan penjagaan security 24 jam.
Rengasdengklok tempat bung dulu diungsikan kini di sekitarnya tumbuh subur pabrik-pabrik, kebanyakan pabrik dari Jepang, Bung.

Mungkin Bung-Bung bisa melihat sendiri, rakyat yang kau merdekakan kini telah jauh lebih cerdas, Bung.

Malam ini, sebagian masyarakat melakukan tirakatan mengenang para pejuang termasuk Bung. Tapi sebagian lain, yang pintar agama, menganggap tirakatan itu syirik, karena tidak ada dalam syariat. Atau sebagian lagi memilih bermalam minggu, katanya untuk merefresh otak biar tetap produktif. Besok hari kemerdekaan, ada yang menggerutu kenapa jatuh di hari minggu. Di kampung sebelah ada lomba kecil-kecilan Bung, karena persiapannya dadakan, tahun kemarin sepi, entah besok. Karena sebagian lebih tertarik datang ke department store, di sana lagi banyak diskon khusus hari kemerdekaan.

Mungkin Bung-bung bisa lihat sendiri, di berita-berita televisi kini elit politik makin pandai Bung. Bicaranya sudah tingkat tinggi dan kadang sulit dimengerti.

Itu Bung sedikit kabar kemajuan setelah enam puluh sembilan tahun kemerdekaan.
Apa kabar Bung-Bung di peristirahatan?
Sehat Bung?

Karawang, 16 Agustus 2014 22:30

Apabila Langit Telah Menutup Jendela

Apabila langit telah menutup jendela,
dan juga warung-warung.
Malam tiba dengan tergesa.
Yang gemerlap
atau yang murung, kenyataan mendekap.

Mimpi kita melambung menjadi balon, membawa terbang.
Terbawa angin entah ke mana.

Karawang, 6 Agustus 2014 21:23

Aku Ingin Menjadi

Aku ingin menjadi angin di malam-malammu,
yang berhembus membelai telinga dan tengkukmu.

Aku ingin menjadi sungai,
yang mengular mengalir di atas perut dan gunungmu.

Aku ingin menjadi hujan,
yang membasahi lembah kasihmu yang rimbun dan subur.

Aku ingin menjadi samudera,
yang menenggelamkan malam-malammu.

September 2013

Barangkali Puisi

Barangkali puisi yang akan mengabadikan cinta,
ketika badan sudah tua dan koyak, kelak puisi masih segar.

Barangkali puisi yang akan menyimpan rindu,
ketika rumah-rumah sudah semakin tua dan angker, kelak puisi akan menceritakan kita kembali.

Barangkali puisi menjadi biang keladi, di antara kita.

September 2013

Gugat Drupadi

Senja yang ungu, ungu yang dalam
benar-benar dalam.
Menjelang ajal Dursasana
raja yang gagah perkasa dan pongah itu
langit seperti menutup matanya dengan kain hitam
O... Dursasana
mulutmu yang kasar itu,
kini telah hancur digepuk gada Werkudara

"Hmmrgh... Dursasana ayo kalau kamu masih bisa bicara, bicaralah!"

Namun Dursasana hanya diam,
matanya sudah terkatup
hanya terdengar suara nafasnya dalam tenggorokan yang telah peyok.
Sedetik kemudian,
dengan kukunya Werkudara menyudet perutnya,
merobek dadanya,
meremukkan tulang rusuknya.
Kemudian ia memeras darahnya ke dalam bokar.

Gurrr... gugur...
Sang raja telah gugur,
peperangan terhenti
hanya tinggal bau anyir darah bercampur debu.

Menjelang gelap,
di antara bayang kelelawar dan roh Aswatama yang terkutuk,
Drupadi, puteri dari Pancawala itu
matanya berkaca-kaca mendengar Dursasana telah gugur,
kini dendamnya telah lebur.

Api dendam itu masih menyala di matanya,
ketika ia dipertaruhkan dalam meja judi.
Nasibnya ada di dalam kocokan dadu.

"Hei apa hakmu Yudhistira mempertaruhkanku di perjudian dadu keparat ini?"

Namun Yudhistira hanya diam Drupadi hanyalah perempuan.
Dalam perjudian itu, Yudhistira kalah dan harus menyerahkan Drupadi kepada Dursasana.
Itulah awal mula Drupadi menjadi budak, martabatnya terjungkal ke dalam kubangan lumpur.

Dan sejak itu,
ia bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana. Dan kini Wrekudara telah melunaskan dendamnya.
Darah dalam bokar itu, diguyurkan pada sekujur tubuhnya, mengeramasi rambutnya yang panjang terurai.

"Hei dunia aku Drupadi, menuntut hakku sebagai perempuan.
Ketika kau telanjangi aku, aku akan menjadi liar dan mencabik-cabikmu.
Ketika kau mencekikku, aku akan menjerit hingga menulikan telingamu.
Aku Drupadi, aku perempuan.
Takkan ku biarkan kau menjamah payudaraku yang agung.
Takkan ku biarkan kau menyentuh wajahku yang suci.
Aku Drupadi,
aku hanya menuntut hakku sebagai perempuan,
tidak akan lebih.

Ambarbinangun, 23 Desember 2012

*dibacakan dalam penutupan LKK HMI Bulaksumur

Barathayuda #1

Pada sebuah pagi, di lembah kuru.
Matahari menjadi bola api yang merah menyala,
mendidihkan darah dan ubun-ubun, dan melenyapkan debu dari udara.

Di horizon,
terlihat bayang-bayang gadha, tombak dan cakra, dan busur-busur panah
yang wangi minyak kesturi.

Ingatkah ketika Kresna berbisik pada Arjuna,
bahwa kita sedang berperang melawan diri sendiri.

Jogja, 20 Oktober 2012

*dibacakan pada Wisuda Beastudi Etos Jogja, Fakultas Geografi UGM - 20/10/12

Di Penghujung

di penghujung
aku menjadi bertanya jika kau tawarkan sekuntum
atau seteguk sudah ku minum
segelas pilsner

lalu apa lagi yang kau minta
ketika sudah sampai pagi
kau merasa sepi hanya milikmu sendiri
dan tidak juga kau bagi

di penghujung
aku menjadi ragu
soal perntanyaanku
yang tak mungkin kau jawab

Menjelang tidur, 30 Oktober 2012

Malioboro III

Aku duduk,
melihat Malioboro yang lelah berdebu.
Terpacak dalam wajah para pengemis dan kuda-kuda yang lesu.
Di bawah sinar merkuri jalanmu tak pernah kosong,
mengalir bagai sungai yang tak pernah kering.
Tembok-tembok tuamu begitu anggun, bertahanpada jaman yang berjalan pincang.
Malioboro, kinimu adalah masa lalu yang tak pernah hilang.
Walau tertatih dalam jalan panjang, penuh debu.

Malioboro, 20 Mei 2012

Sebelum Berakhir Kata, Sebelum Detik Menamatkan Ceritanya *

Yang tak kan pernah singgah adalah waktu
pada lekuk gua dan bongkahan batu-batu, di sanalah waktu meninggalkan jejaknya yang abadi. Pada lembar manuskrip, yang mengekalkan cerita; roman dan peperangan. Juga pada tanah yang retak menganga, haus darah yang tertumpah. Pada jejak-jejak itu pergulatan kita dengan waktu akan menggores luka.

Langkah kita terlalu gaduh, sehingga tak mendengar pada yang mengaduh. Tak habis-habisnya kita mengerang, di dalam lubang yang kita bikin sendiri, menjadi sarang. Oh, mengapa kita tergesa dalam engah panjang. Sementara rembulan masih melengkungkan asma-Mu. Mungkin kita sedang sibuk berebut astagina, cupu yang tenggelam ke dasar telaga dalam rimba, asal mula petaka.

Yang tak kan pernah diam adalah debur
angin risau mengadukan pilu kepada pasir yang terhempas sampai pesisir, kotamu. Seorang bocah duduk sendiri termangu dalam mimpi tentang rembulan yang jatuh ke dalam sumur, dan langit malam menjadi sehitam lumpur.

Dengarkanlah,
di luar angin berunding dengan pepohonan. Di antara jalanan dan gedung-gedung tinggi, dingin berusaha memecah kaca jendela rumah kita.
Oh, betapa kita telah menjadi nyamuk di dalam rumah tua tak berpenghuni.

Yang tak kan pernah sirna adalah Nur
mata bocah-bocah menghamburkan kunang-kunang ke angkasa, ketika doa melinangkan makna. Tubuhnya kurus terbalut debu, namun jalannya pasti menuju ke karang senja.

Katamu, berangkatlah, sebelum berakhir kata, sebelum detik menamatkan ceritanya.

Yogyakarta, Desember 2011

*) Puisi ini pernah dilombakan dalam ajang "Lomba Cipta Puisi Islami" HiFest FORMASI FIB UI.

Aku Ingin Malam

Aku ingin,
malam menjadi pelerai
bagi dua hati
yang sedang bercerai

Aku ingin,
malam tumbuh menjadi pohon rindang
yang teduh
seperti pelukan-pelukan kita
melewati malam dengan peluh

Aku ingin malam menjadi saksi,
bagi cinta kita
yang sembunyi-sembunyi

Mei ini Aku Ingin Kencan Dengan Mu

mei ini
aku ingin kencan dengan mu
bersama menyambut kemarau yang datang
mengendap-ngendap
di balik rerantingan jatuh dan pohon jati yang meranggas
di kebun
kita dengar bunyi garengpung
yang sembunyi di balik celah kulit kayu
mengabarkan musim, mengabadikan waktu

mei ini
aku ingin kencan dengan mu
di bawah panasnya langit yang bolong
menyaksikan sungai-sungai menguap
dan hutan-hutan yang bakar diri
sini merapat padaku
jika kau merasa ngeri

mei ini
aku ingin kencan dengan mu
walaupun sedikit terganggu
buruh-buruh yang turun ke jalan
menuntut keadilan
sementara ahli-ahli ekonomi
sibuk dengan usaha salonnya
di televisi kita menonton berita para TKI
yang pulang dalam peti jenazah

mei ini
aku ingin kencan dengan mu
meski cuaca tak tentu
dan kita tak pernah tahu


Jogja, 2 Mei 2012

Hujan Penghabisan #1

Seuatu sore di penghabisan bulan April
seperti menamatkan kisahnya hujan turun berderai
membawa kisah-kisah lama yang terlupa

angin berhenti, tiada pula senja gemulai
yang biasanya berparas dalam kaca-kaca ujung cakrawala
bunga-bunga ilalang basah
juga daun-daun yang berguguran, mencium bau tanah
dalam duka
yang teredam
yang terendam

alangkah elok perpisahan
yang kita puja, walau dalam kepalsuan air mata

Jogja, 1 Mei 2012

Hujan #5

kemerlip lampu
dan hujan yang merintik tak henti
angin tiada bertiup yang membikin
burung-burung menggigil takut
seorang penyair berjalan sendiri
bimbang untuk menulis kesah gelandangan
atau sajak kerinduan
untuk kekasihnya
yang terbayang dalam hujan

Jogja, 30 April 2012

Gendruwo yang Matanya Merah Menyala-nyala

di dalam marah kita bukan menjadi diri sendiri
seperti kata emak, itu namanya ketempelan
ketempelan gendruwo yang matanya merah menyala-nyala
karena tiba-tiba kita ingin mencakar-cakar
ingin meraung
ingin menendang dan menyeruduk apa saja

seperti yang dilakukan bapak kepada emak
meski emak ditendang, emak dijambak
tapi emak tak pernah membenci bapak, tak pernah
emak percaya yang melakukan itu bukan bapak
tapi gendruwo yang matanya merah menyala-nyala
sedang menempeli bapak

kata emak, manusia itu sering lupa sama dirinya
ketika manusia lupa, gendruwo yang matanya merah menyala-nyala itu
hinggap dan menempeli kita
kemudian dia mengamuk, dan menendang dan menyeruduk apa saja

gendruwo yang matanya merah menyala-nyala
tinggal di alam awung-awung
mereka kasat mata
tapi sebenarnya meraka ada di mana-mana
di dapur, kakus, jalan, tempat parkir sampai di mall-mall juga ada
mereka siap menempeli siapa saja yang sedang lupa

oleh karena itu, pesan emak
jangan membenci orang yang sedang marah
karena sebenarnya dia sedang ditempeli gendruwo yang matanya merah menyala-nyala
yang kita lakukan sebaiknya mengingatkan
biar ingat, karena jika sudah ingat dengan dirinya
gundruwo yang matanya merah menyala-nyala itu akan pergi dengan sendiri

dan pesan emak lagi,
kamu jangan sampai lupa
dzikir dan sholat dilakoni
karena di mana-mana
gendruwo yang matanya merah menyala-nyala
siap menempeli kita

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Categories