Ingatan Saya tentang Mas Sigit Nursyam : Kenapa Mahasiswa Harus Berdemonstrasi

Di pertengahan tahun 2008, saat saya masih duduk di kelas 2 SMA, saya bertemu dengan salah seorang aktivis mahasiswa yang membuat saya berdecak kagum waktu itu. Dia adalah Sigit Nurysam, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNY periode 2008.

Entah bagaimana caranya, dia berhasil masuk ke sekolah dan memberikan sesi presentasi di kelas saya. Sesuatu yang sangat sulit dilakukan untuk sekarang ini, jangankan memberikan presentasi yang bersifat “provokasi”, alumni sekolah datang untuk mengajar ngaji saja banyak dicurigai.

Waktu itu Mas Sigit, membuka presentasi dengan pemaparan permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia. Mulai dari masalah korupsi, kedaulatan energi, dan masih banyak yang tidak bisa saya ingat. Dia juga memberikan pendidikan tentang korupsi, waktu itu dengan mengambil kasus proses pembuatan surat ijin mengemudi (SIM) dengan melempar pertanyaan, apakah lebih baik bersepeda motor tanpa mempunyai SIM atau bersepeda motor dengan SIM “nembak”. Dan dia telah berhasil membuat kami beradu argumen, ada yang pro dan kontra.

Namun, yang membuat saya ingin membikin tulisan ini bukanlah itu semua, melainkan cerita Mas Sigit yang menolak diajak makan malam di istana oleh Presiden SBY. Ya, memang berbeda dengan yang dilakukan beberapa Ketua BEM tempo hari yang memenuhi undangan makan malam Presiden Joko Widodo, tak lupa diakhiri dengan sesi foto bersama.

Dalam ceritanya, waktu itu Mas Sigit ditemui staff kepresidenan pada waktu melakukan demonstrasi diajak untuk masuk ke dalam istana duduk semeja dengan Presiden. Sebenarnya dia tidak menolak, tetapi untuk menerima tawaran masuk istana tersebut Mas Sigit mempunyai satu syarat, yaitu harus mengajak anak-anak gelandangan dan pengemis yang ada di sekitar istana waktu itu untuk ikut serta dengannya masuk istana. Dan tentu saja staff kepresidenan waktu itu tidak mengabulkannya, karena kaki gelandangan yang telanjang dan korengan akan mengotori karpet istana.

Dari cerita tersebut, terbayang bagaimana idealisme seorang mahasiswa seperti Mas Sigit. Untuk menginjak karpet istana, hatinya tak tega melihat di seberang sana para tuna wisma sedang tiduran di atas gelaran kardus bekas. Di luar idealisme, semua hal bisa mendapatkan pembenaran bahkan di dalam perjuangan.

Dalam sebuah wawancara, Pramoedya Ananta Toer pernah menuturkan bahwa tidak ada kekuatan dimiliki mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan kecuali aksi masa. Dan hal itu sudah dibuktikan oleh sejarah pergerakan mahasiswa mulai angkatan orde lama sampai reformasi.

Kenapa Mahasiswa harus berdemonstrasi?

Menjelang keruntuhannya tepat 17 tahun yang lalu, pada saat Soharto mengumpulkan para ulama dan tokoh bangsa, ia ditanya bagaimana pendapatnya tentang demonstrasi gerakan mahasiswa. Kala itu Soeharto menjawab, bahwa ia tak khawatir dengan mahasiswa, yang membuatnya menggigil takut adalah pada saat melihat rakyat yang mengamuk dengan menjarah toko dan membakar gedung-gedung.

Dengan penuturan Soeharto tersebut, menyimpulkan bahwa mahasiswa sendiri tidak ditakuti oleh penguasa. Tetapi apa yang dikhawatirkan oleh penguasa adalah mahasiswa bisa menjadi pemantik revolusi. Mahasiswa seperti korek api, yang tak mungkin bisa membakar rumah, tetapi ia bisa membakar sumbu bom masa rakyat yang menggetarkan penguasa.

Pada masa reformasi ini, di mana kran kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya, suara mahasiswa menjadi semakin lirih. Bahkan untuk demonstrasi saat ini sering dipandang sebelah mata justru oleh mahasiswa sendiri. Demonstrasi sering dianggap hanya memenuhi jalan raya, tidak akan mengubah keadaan. Hal itu sangat benar, saat ini demonstrasi tidak bisa mengubah keadaan, tetapi bukan berarti demonstrasi harus ditinggalkan. Demonstrasi adalah kebutuhan bagi mahasiswa itu sendiri, demonstrasi adalah olah raga yang menyehatkan idealisme. Dengan demonstrasi, mahasiswa dapat menziarahi sejarah masa lalu di mana dulu mahasiswa harus mengorbankan nyawa untuk mempertahankan idealismenya. Jadi demonstrasi bukan persoalan mengubah keadaan, demonstrasi adalah soal menjaga idealisme. Itu kenapa demonstrasi harus tetap dilakukan oleh mahasiswa.

Di akhir tulisan ini, saya iseng mencari nama Sigit Nursyam di google. Dan menemukan bahwa beliau saat ini telah menjadi anggota DPRD Kabupaten Bantul. Semoga idealisme yang beliau ceritakan kepada saya 7 tahun yang lalu masih dipegangnya erat-erat hingga sekarang.


Cawang, 21 Mei 2015

Catatan Kelam Bulan Mei

Bulan Mei menjadi monumen sejarah pergerakan di Indonesia, sehingga bulan ini disebut sebagai bulan pergerakan. Setidaknya ada lima peristiwa penting yang terjadi di Bulan Mei : 1 Mei “Hari Buruh Internasional”, 2 Mei “Hari Pendidikan”, 12 Mei “Tragedi Trisakti”, 20 Mei “Hari Kebangkitan Nasional”, 21 Mei “Hari Peringatan Reformasi”. Bulan Mei pada tahun ini pun sebelumnya santer didesuskan akan terjadi penggulingan Presiden Joko Widodo dengan deretan isu negatif di 100 hari pemerintahannya. Demo besar-besaran diisukan akan dilakukan pada tanggal 20 Mei dengan cara mengepung istana.

Namun apa yang terjadi selanjutnya? Istana dengan presiden yang mungkin bodoh, tetapi tidak dengan para penasihat dan orang-orang berkuasa di baliknya. Mereka tentu tak akan membiarkan ada demonstrasi besar-besaran terjadi. Pertama, pemerintah melalui kemensesneg mengundang secara resmi para petinggi gerakan mahasiswa mulai dari ketua BEM sampai ketua gerakan mahasiswa ekstra kampus. Undangan makan siang tersebut dapat dipahami dengan akal goblok sekalipun tujuannya adalah untuk menyocok hidung gerakan mahasiswa.

Dan setelah itu muncul pernyataan dari Kelompok Cipayung di Bandung bahwa mereka menolak bergabung dalam demonstrasi penggulingan pemerintah pada Bulan Mei. Mereka lebih memilih diajak kerjasama menggelar seminar dengan dirjen-dirjen dan kementrian, membahas masalah kepemudaan, tantangan globalisasi dan lain-lain daripada berdemonstrasi menolak kenaikan harga BBN. Kelompok Cipayung (HMI, PMII, GMNI, GMKI, PMKRI) yang selama ini dikenal sebagai otak perjuangan gerakan mahasiswa telah berhasil “dijinakkan” oleh pemerintah. Maka pemerintah sudah tak perlu khawatir lagi tentang ancaman pengepungan istana pada tanggal 20 Mei.

Ke dua, tepat sehari menjelang peringatan Hari Buruh pada tanggal 1 Mei, yang sudah pasti akan diwarnai aksi demosntrasi buruh-buruh pabrik di jalanan protokol ibu kota, sebuah berita heboh muncul di berbagai headline news seluruh stasiun televisi yaitu ditangkapnya Novel Baswedan oleh Bareskrim Polri. Alhasil, di koran pagi tanggal 2 Mei semua headline news dipenuhi tentang berita kontroversial tersebut. Dan demonstrasi para buruh harus mengalah untuk tidak menjadi topik utama.

Tidak cukup dengan itu, setelah isu Novel Baswedan meredup. Yang ke tiga, menjelang peringatan peristiwa trisakti 12 Mei, berita tidak penting dan tidak mutu meledak di media masa, yaitu pengangkapan seorang artis AA yang ditangkap setelah melakukan transaksi prostitusi, lengkap dengan keterangan barang bukti beha dan celana dalam.

Akhirnya fase-fase peristiwa penting di Bulan Mei pun terlupakan dengan gaduhnya pemberitaan yang membuat rakyat melupakan rasa laparnya.

Namun, “kekejaman” penguasa tak hanya sampai di situ. Mulai pukul 00.00 tanggal 15 Mei ini pemerintah kembali menaikkan harga bahan bakar minyak, yang menjadi sorotan adalah kenaikan harga solar dari Rp 6.900,00 –Rp 9.200,00. Semua mesin diesel menggunakan bahan bakar solar, apa saja kendaraan yang menggunakan mesin diesel? Ialah angkot, bus kota, kol-kol pengangkut sayur di pasar tradisional, turk-truk bak pengangkut pasir dan bahan bangunan, truk-truk kontainer pembawa logistik dari pelabuhan, sampai bus antar kota.

Semua jenis kendaraan di atas akan merasakan dampak secara langsung atas kenaikan harga solar. Dan mulai esok pagi selama seminggu ke depan, akan terjadi keributan-keributan kecil di pinggir jalan antara penumpang dan sopir angkot soal ongkos yang naik tak tentu, karena organda belum sempat menetapkan ongkos baru, sedangkan solr sudah naik terlebih dahulu. Keributan kecil recehan seribu tersebut tak akan terdengar oleh pemerintah, karena jangankan mendengar, dalam kenaikan harga bbm ini saja pemerintah tidak secara langsung mengumumkan.

Sampai saat ini, jawaban masyarakat ketika ditanya wartawan mengenai kenaikan harga BBM masih memaklumi “Yaa mau bagaimana lagi…”, tetapi jika suatu saat masyarakat hanya diam tak menjawab ketika ditanya, itu berarti sudah gawat.

Cawang, 14 Mei 2015

Hari Buruh #1 : “Seharusnya Buruh Menggelar Syukuran”

Setiap pagi pukul 06.00 di sepanjang jalanan Badami exit tol menuju Kota Karawang berjajar buruh-buruh pabrik dengan seragam warna-warni. Mereka sedang menunggu bus jemputan karyawan yang akan membawa mereka ke pabrik, bekerja sepanjang hari sampai hari menjelang gelap kemudian mereka diantar pulang dengan bus yang sama ke tempat tinggal mereka. Tetapi roda produksi tidak berhenti sampai di situ, buruh-buruh yang lain, yang mendapat jam kerja pada shift 2 telah menanti di sepanjang jalan untuk dijemput menuju pabrik, menggantikan buruh-buruh yang telah capek seharian bekerja dari pagi hingga sore. Begitulah mesin industri bekerja 24 jam setiap hari, tak henti-hentinya mengolah komoditas untuk mendapat untung sebesar-besarnya.

Kita adalah generasi yag lahir pada jaman gegap-gempita di mana kapitalisme telah menguasai seluruh aspek dan lini kehidupan.  Sejarah mencatat setidaknya kemenangan kapitalisme ditandai oleh runtuhnya tembok Berlin, kemengan sekutu pada perang dunia II dan pecahnya Uni Sovyet menjadi beberapa negara.

Karl Marx telah mengamati dan memprediksi hal-hal tersebut, pemikirannya lahir dari kesadaran akan kesenjangan kelas sosial antara proletar dan borjuis. Dalam sistem kapitalis, borjuis adalah mereka yang menguasai alat produksi, sedangkan proletar adalah kaum yang tidak menguasai alat produksi dan harus bergantung pada alat produksi yang dikuasai borjuis. Dalam hal ini, buruh sebagai kelas proletar digunakan sebagai ‘penopang’ alat produksi untuk meningkatkan nilai guna suatu komoditas.

Tetapi ada yang menarik dari pernyataan seorang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, menjelang peringatan May Day, ia memperingatkan kepada para buruh untuk tidak berdemo, justru menyarankan untuk menggelar syukuran, karena upah yang diterima buruh saat ini sudah cukup besar –seperti diberitakan di beberapa media nasional. Dan hal itu disambut dengan kata sepakat oleh Ketua SPSI Purwakarta, Agus Gunawan mengatakan “May Day itu berkah dari perjuangan yang selama ini diperjuangkan buruh, jadi harus disyukuri dan dinikmati”.

Ini adalah tanda kemenangan telak kaum borjuis, kapitalisme dengan industri-nya telah berhasil memacak diri sebagai dewa pemberi rejeki di mana banyak orang bergantung darinya. Kapitalis telah memanjakan buruh dengan upah yang cukup, bus yang menjemput dan mengantar mereka, makanan yang enak dan bergizi serta snack dan susu di setiap jam 10 pagi. Di luar itu, kapitalis juga telah memamerkan bahwa dirinya peduli terhadap kondisi lingkungan dengan menyalurkan CSR untuk pendidikan, pengobatan gratis, menanam pohon sampai donor darah.

Buruh tidak akan macam-macam, organisasi buruh diberikan kantor sekeretariat yang layak dengan meja kursi yang bagus dan pendingin ruangan, pengurus organisasi diberikan gaji oleh perusahaan. Kapitalis juga membiarkan adanya demonstrasi, buruh boleh berunjuk rasa, asalkan tertib, tidak merusak, tidak memblokir jalan, setelah itu buruh bisa membubarkan diri beristirahat menyiapkan badan untuk bekerja kembali.

Buruh pabrik di kota-kota besar mempunyai upah rata-rata 3 juta per bulan dengan uang lembur, bahkan di beberapa daerah seperti di Karawang, buruh bisa mengantongi uang 5 juta per bulan. Di dalam masyarakat kapitalis yang mengandalkan uang, buruh sudah tidak minder lagi dengan tetangganya yang bekerja sebagai PNS. Secara ekonomi mereka telah berada di dalam kelas sosial yang sama.

Menurut Marx, kondisi buruh-buruh di pabrik saat ini telah mencapai pada tingkat kesadaran palsu, di mana pabrik-pabrik adalah tempat memberi rejeki, lalu mereka akan mendoakan supaya pabrik-pabrik tersebut semakin besar dan dapat memberikan kesejahteraan pada mereka.  Lalu benarkah bahwa kesadaran asli yang terjadi adalah pendindasan kapitalis terhadap kaum buruh? Saya tidak mau membahas, biarlah dibahas oleh Marxist.

Saya hanya ingin menekan-kan, bahwa di luar cerita manis tentang buruh dan kesejahteraannya di atas, kita sering luput bahwa di luar sana masih banyak buruh-buruh yang bekerja pada sektor informal. Mereka yang menjadi pelayan di warung makan, kernet angkot, buruh cuci di kios loundry, tukang masak di dapur catering, penjaga kios butik dan masih banyak lagi profesi sebagi buruh yang menerima upah jauh di bawah UMR. Yang sering memilukan hati adalah melihat mereka masih berusia sangat muda, namun harus menghabiskan masa mudanya untuk bekerja di tempat yang tidak membuat mereka berkembang. Mereka adalah yang sebenar-benarnya harus diperjuangkan oleh pemerintah baik secara regulasi maupun sistem. Dengan fenomena tersebut, sepertinya harus ada pemikiran yang lebih kompleks lagi untuk menciptakan tatanan sosial yang jauh dari kesenjangan.

Cawang, 1 Mei 2015

Hari Buruh #2 : Tani dan Masa Depan yang Terancam

Lambang palu-arit yang digunakan sebagai lambang komunisme pertama kali muncul pada saat Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 yang dipimpin oleh Lenin. Di mana pada saat itu revolusi dijalankan oleh kaum buruh yang dilambangkan dengan palu, dan kaum petani yang dilambangkan dengan arit. Perjuangan kelas yang didengungkan oleh komunis ditujukan kepada buruh industri di kota dan buruh tani di desa-desa.

Dewasa ini kaum buruh di kota sudah mulai cerdas, mereka dibimbing untuk berorganisasi, sehingga menghasilkan banyak sekali organisasi serikat pekerja. Dari organisasi serikat pekerja tersebut, buruh mulai membentuk kekuatan untuk melindungi hak-haknya sendiri mulai dari tuntutan upah sampai pembelaan terhadap anggota yang terkena masalah dengan perusahaan.

Begitu ‘mapan’-nya kehidupan buruh saat ini, jika dibandingkan dengan kehidupan buruh tani yang ada di desa-desa. Namun sebelumnya, saya ingin menerka dulu siapa buruh tani, siapa petani dan siapa tuan tanah. Dulu perbedaan kelas yang terjadi di desa-desa adalah adanya tuan tanah dan buruh tani, tetapi apakah hal tersebut masih relevan saat ini. Sekali lagi saya hanya menerka, melihat kondisi di sekitar saya bahwa tuan tanah sudah hampir tidak ada peran lagi terhadap kesengsaraan kaum buruh tani. Di sistem kapitalisme ini, lagi-lagi uang yang menjadi primadona, maka tak sedikit dari tuan tanah –sebatas yang saya amati- banyak menjual aset mereka berupa tanah untuk membuka usaha baru, atau untuk keperluan yang besar. Kemudian lahan yang dijual tersebut oleh pemilik barunya dialih-fungsikan.

Kemudian hampir tidak ada perbedaan antara tuan tanah (petani) dan buruh tani, mereka sama-sama terjepit dengan kondisi harga pupuk yang mahal dan hasil panen yang murah. Di saat seperti itu, perusahaan-perusahaan retail mengendus ke desa-desa, mereka membeli hasil panen mereka sedikit lebih mahal dari harga di pasar. Lalu seperti yang kita ketahui produk-produk petani tersebut dijual dengan harga berlipat setelah dibungkus plastik, diberi label dan dijual di super market.

Tuan tanah yang sudah kehilangan daya, bersama para buruh tani, sekarang menghadapi persoalan yang lebih kompleks seperti itu. Belum lagi persoalan impor beras, impor tembakau, impor gula, dan lain-lain yang sangat mengancam hasil panen mereka. Siapa yang akan mengadvokasikan petani? Jika pemerintah justru ikut andil dalam menenggelamkan mereka dengan regulasi-regulasinya.
Dulu, para petani mempunyai koperasi untuk mengelola hasil panen mereka secara komunal, hal itu yang melindungi mereka dari para tengkulak, tetapi seperti yang kita ketahui sekarang di desa-desa KUD hanya tinggal plang yang sudah karatan, atau bahkan sudah tak ada jejaknya.

Itulah realita yang terjadi, ketimpangan kesejahteraan antara buruh pabrik dan buruh tani adalah fenomena bahwa kapitalisme telah merasuk sampai ke desa-desa dan berimbas pada petani. Anak seorang petani kini leih memilih bekerja sebagai buruh pabrik daripada melanjutkan profesi orang tuanya sebagai petani. Dengan menjadi buruh pabrik, ia bisa membanggakan seragam pabriknya, tidak repot-repot untuk berlumpur di sawah, dan mendapatkan penghasilan yang pasti setiap bulannya. Dengan penghasilan tersebut ia bisa mencicil sepeda motor dan menabung untuk mengawini pacarnya. Berbeda ketika ia memilih menjadi petani yang tak jelas hasil panennya, juga tak jelas bagaimana masa depannya.

Selain itu, fenomena di mana terjadi alih fungsi lahan pertanian untuk dijadikan area industri juga sangat mengkhawatirkan. Sudah banyak terjadi di berbagai daerah, untuk mewujudkan kota yang hijau sesuai slogan pemerintah, pabrik-pabrik dipaksa keluar dari kota, kemudian mereka merangsek ke desa-desa. Di desa-desa para ‘bos’ pabrik dengan mudah membeli lahan para petani, karena petani sendiri sudah putus asa untuk menggarap lahan mereka. Para tuan tanah itu memilih menjual tanah mereka untuk membuat usaha baru.

Maka masa depan para petani akan terancam oleh industrialisasi yang menyerang dari segala lini. Pemerintah yang akan menentukan keberpihakannya kepada siapa.


Cawang, 1 Mei 2015

Hari Buruh #3 : Keteladanan SpongeBob

Sejak beberapa kali menonton kartun SpongeBob, saya mengambil kesimpulan bahwa pesan yang ingin disampaikan lewat kartu ini adalah tentang kapitalisme. Sebagai tokoh sentral dalam kartun SpongeBob adalah Patrick (sahabat karib SpongeBob), Squidward (tetangga dan rekan kerjanya) dan Mr. Krab (bosnya / pemilik krusty krab) serta Plankton (pesaing bisnis Mr. Krab). Sedangkan SpongeBob sendiri adalah seorang yang bekerja sebagai juru masak membuat patty.

Mr. Krab yang mempunyai nama lengkap Mr. Eugene H. Krabs digambarkan sebagai seorang kapitalis sejati, yang ada di kepalanya hanya soal uang uang dan uang. Segalanya dilakukan untuk mengumpulkan dollar demi dollar, bahkan ia enggan membelanjakannya. Jangankan dengan orang lain, dengan anak semata wayangnya saja –Pearl- Mr. Krab sangat pelit, di beberapa episode Pearl sering marah dan ngambek karena kepelitan ayahnya yag membuat ia malu di depan teman-temannya. Begitulah wajah kapitalisme, kapitalisme adalah soal uang uang dan uang, semuanya dilakukan untuk menaikkan nilai tukar suatu komoditi sehingga menghasilkan uang.

Di dalam kartun SpongeBob juga dihadirkan Plankton sebagai pesaing usaha Mr. Krab, menggambarkan bahwa dunia kapitalisme tidak dapat dipisahkan dengan persaingan pasar. Persaingan-demi persaingan sering ditontonkan dalam beberapa episode, bahkan persaingan itu sudah menghalalkan segala cara, Plankton sering sekali berupaya untuk mencuri resep rahasia Krusty Krab walaupun selalu gagal.

SpongeBob dan Squidward adalah tokoh yang menggambarkan kaum buruh, mereka sam-sama bekerja di restoran Krusty Krab milik Mr. Krab. Namun, SpongeBob dan Squidward adalah dua orang yang sangat berbeda baik dari cara pandang maupun perilakunya. Squidward adalah gambaran kebanyakan orang yang bekerja sebagai buruh saat ini. Ia selalu terlihat tidak bersemangat, pekerjaan sehari-hari bagi buruh sangat melelahkan, selain itu pekerjaan yang dilakukan juga sangat membosankan. Squidward juga tidak mau rugi dengan waktunya, ia selalu datang bekerja dan pulang bekerja sesuai dengan jam kerja yang ditentukan.

Setelah pulang ke rumah, Squidward selalu menyendiri dengan melukis atau memainkan klarinet. Setiap kali SpongeBob dan Patrick mengajaknya bermain, ia selalu menolak. Hal itu adalah pesan bahwa kebanyakan orang di kota-kota besar saat ini sudah dirasuki egoisme, menghilangkan hal-hal komunal. Sosok Squidward adalah orang yang telah tenggelam dalam dunia kapitalisme, dan dia sadar dia tidak mampu untuk melawan, sehingga sifat yang muncul adalah materialistis, tidak bersemangat dan selalu murung.

Bagaimana dengan SpongeBob? SpongeBob adalah antitesis dari Squidward, ia adalah buruh yang bekerja sangat rajin, ia selalu mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik. SpongeBob adalah buruh yang mencintai pekerjaannya, baginya memasak krabby patty adalah sebuah darma untuk memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Bagi SpongeBob, uang tidaklah penting, di beberapa episode ia sering dihukum oleh Mr. Krab tidak akan dibayar namun ia tetap gembira.

SpongeBob sangat tidak materialistis, dia mempunyai peliharaan siput bernama Garry, artinya ia punya rasa kasih. SpongeBob juga dikenal sangat loyal terhadap sahabat-sahabatnya seperti Patrick, Sandy dan Larry. Hal-hal penting bagi SpongeBob bukanlah materi, tetapi immateri seperti rasa pertemanan itu.

Bagi saya, SpongeBob adalah keteladanan. Betapa sehebat apapun teori Karl Marx, tetapi ia berangkat dari materialisme. Sedangkan SpongeBob selalu mengingatkan saya kepada Orang Jawa, yang mengahadapi segala sesuatu dengan penerimaan, termasuk menerima kapitalisme. Jika kita membenci kapitalisme, tetapi kita sendiri tidak bisa lepas dari materialisme itu sama halnya dengan membenci padi namun tidak bisa lepas dari nasi. Akhirnya kita akan menjadi Squidward yang selalu mengeluh dengan atas semua keadaan, tetapi kita sendiri tak kuasa mengubah keadaan itu.

Cawang, 1 Mei 2015

Per-empu-an

Lagi-lagi saya ingin bercerita masa-masa di Yogya. Selama tiga tahun saya tinggal di asrama pinggir Kali Code, tepatnya di Kampung Cokrokusuman belakang Hotel Santika. Selama di asrama itu saya mendapat banyak sekali pelajaran, pelajaran apapun baik dari dalam asrama maupun lingkungan asrama. Salah satunya yang paling saya ingat adalah pelajaran dari Pak Moko, seorang pemilik warung makan angkringan tak jauh dari asrama.

Seperti biasa, sehabis sembahyang maghrib kami mampir untuk makan di tempat Pak Moko, dengan nasi campur teri lauk gorengan dan minum es teh cukup Rp 5000,- perut sudah kenyang. Mulailah Pak Moko memberikan tausyiah. Waktu itu bahasannya adalah tentang perempuan. Beliau mulai menjabarkan arti masing-masing kata wadon, wanita dan perempuan secara harfiah. Tentu penjelasan tersebut tidak memakai teori-teori asal-usul bahasa yang ndangkik-ndangkik, melainkan pesan yang sudah tutur-tinular berada di masyarakat.

Wadon, wanita dan perempuan adalah tingkatan derajat martabat seorang makhluk hawa. Wadon dalam bahasa Jawa berasal dari kata ‘adu’, sama persis menjadi kata serapan Bahasa Indonesia ‘adu-an’. Wadon adalah derajat terendah dari kaum hawa, di mana kaum hawa hanya digunakan sebagai tempat adu yang bisa berarti suruhan, tempat membuang emosi, dan lain sebagianya. Di situ kaum hawa hanya digunakan sebagai obyek oleh kaum adam, baik hanya untuk dimaki-maki, disuruh atau hanya digunakan sebagai boneka pemuas syahwat.

Yang ke dua adalah ‘wanita’, yang merupakan akronim dari ‘wani ditata’ yang berarti berani diatur. Di sini lah kaum hawa mulai diakui keberadaanya, tidak hanya digunakan sebagai obyek oleh kaum adam. Pada tataran ini, kaum hawa diperlakukan lebih dari hanya sekadar obyek, namun juga memperoleh pengakuan ketika kaum hawa tersebut bisa untuk diatur, tidak sekadar diperintah.

Yang terakhir adalah perempuan, yang berasal dari kata empu. Empu adalah seorang pemimpin sepiritual dalam agama Hindu, namun dalam perkembangannya sebutan Empu digunakan untuk menyebut orang yang ahli dalam bidang tertentu seperti pengobatan, sastra, seni, filsafat , dan lebih sempitnya lagi empu adalah sebutan untuk seseorang yang ahli membuat senjata (keris).

Kenapa kaum hawa disebut Empu sebagai penghormatan tertinggi atas dirinya? Karena kaum hawa adalah satu-satunya makhluk yang mempunyai tempat untuk membikin kehidupan, yaitu rahim. Betapa cantiknya waria-waria Thailand setelah melakukan operasi plastik dan suntik silikon untuk menumbuhkan payudara hingga hampir persis menyerupai kaum hawa, tetapi dengan cara apapun mereka tidak bisa membikin rahim, rahim hanyalah diciptakan dan dititipkan kepada kaum hawa. Itulah makna perempuan, yang berarti makhluk hawa diciptakan sebagai tempat penciptaan kehidupan.

Begitu tingginya masayarakat nusantara dalam menjunjung kaum hawa dengan sebutan per-empu-an. Begitu juga dengan sebutan ‘ibu pertiwi’, ‘ibu kota’ dan lain sebagainya. Di berbagai daerah, di desa-desa kita saksikan ibu-ibu telah berusia lanjut dengan memakai jarik dan kebaya bertelanjang kaki berpanas-panas, dan berlumpur-lumpur di kubangan sawah untuk menanam padi. Menanam padi, di daerah manapun selalu dilakukan oleh kaum hawa. Begitu juga dengan perkebunan sayuran di lereng Merbabu, Dieng dan hampir semua perkebunanan pegunungan di nusantara digarap oleh kaum hawa. Itulah realita kondisi kaum hawa kelas petani di nusantara, berbeda lagi dengan kaum hawa kelas priyayi, mereka banyak mengatur bisnis keluarga, menjalankan usaha, mengatur keuangan dan lain sebagainya, di tengah suaminya menjalankan tugas sebagai pejabat dan ‘hanya’ menjadi simbol keluarga.

“Lalu jangan ajari ibuku soal emansipasi!”

Gagasan feminisme berasal dari barat yang muncul dari kegundahan kaum hawa di barat, yang dalam kenyataan Barat jauh lebih patriarkis daripada Jawa. Jauh lebih parah dari kepatriarkian, dalam sejarahnya di barat perempuan pernah dianggap sebagai makhluk yang tak berjiwa, dilarang untuk berbicara, makan daging dan sebagainya. Kemudian ke-patriarkis-an barat itu dibawa oleh penjajah dan diterapkan ke dalam masyarakat Jawa baik dalam sistem pemerintahan maupun pendidikan.

Lalu di sinilah seorang Kartini menulis surat kepada temannya di Belanda yang berisi curahan hatinya mengenai kondisi kaum hawa di Jawa yang tidak mendapatkan hak-haknya dari otoritas pemerintah Hindia Belanda yang didukung oleh kelompok Priyayi (yang juga merupakan produk penjajahan). Bahkan sebagai seorang priyayi Kartini sendiri pernah menulis dalam suratnya “Panggil aku Kartini saja” yang kemudian digunakan oleh Pramudya Ananta Toer sebagai judul karangannya.

Adanya kegundahan batin seorang Kartini jelas tidak hanya muncul karena adanya bentuk tatanan sosial masyarakat patriarkis di Jawa, tetapi lebih karena penindasan dan hak-hak yang tidak diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada kaum hawa. Jadi, jangan dikaburkan perjuangan Kartini yang menentang penindasan kaum hawa oleh Hindia Belanda menjadi seolah-olah Kartini menuntut hak-hak kaumnya dari ke-patriarkis-an masyarakat Jawa.

Selamat Hari Kartini, Per-empu-an!

Cawang, 21 April 2015

Sarjana Sekrup

Konon ada perdebatan kecil pada saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Beastudi Etos* tahun 2010 di Parung, Bogor. Perdebatan itu adalah mengenai penentuan Visi baru Beastudi Etos "Terdepan dalam membentuk SDM berkarakter untuk Indonesia unggul dan berdaya", apakah lebih tepat kata "membentuk" atau "mencetak"? Bukankah "mencetak SDM berkarakter" akan terdengar lebih diktif daripada "membentuk SDM berkarakter"? Namun dalam rapat itu akhirnya disetujui kata yang tepat digunakan adalah "membentuk". Karena secara makna dan filosofi mencetak dan membentuk mempunyai arti yang sangat berbeda. Dalam ilmu logam (metalurgi), untuk membuat sebuah benda dari logam ada banyak cara dan metode yaitu di antaranya Pengecoran (Casting), Pembentukan (Forging) dan Permesinan (Machining). Dari ketiga metode tersebut tentunya mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda pula.

Metode casting digunakan untuk membentuk logam yang rumit dan mempunyai bentuk yang sama persis, metode casting juga mengharuskan logam yang dicor harus berbahan sama, biasanya menggunakan batangan logam (ingot). Dengan metode inilah seorang tentara dilahirkan, sebelum menjadi tentara tentu orang-orang yang akan masuk akademi sudah discreening terlebih dahulu mulai dari tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh, tenaga sampai IQ. Baru setelah itu mereka dipanaskan sampai leleh dengan menjalani pendidikan sampai akhirnya dicetak menjadi seorang prajurit yang mempunyai sikap sama, cara pandang sama, bahkan bentuk tubuh dan potongan rambut yang sama.

Sedangkan metode forging (pembentukan) mempunyai beragam sub cara yaitu dengan ditempa, ditekuk, diroll dan lain-lain menyesuaikan kemampuan dan sifat dari masing-masing logam apakah lebih cocok dijadikan keris, pisau atau samurai. Itulah perbedaan mendasar dari sebuah proses "dicetak" dan "dibentuk".

Tetapi, saya melihat perguruan tinggi saat ini -dan tentu saja melihat sarjana lulusannya- justru tidak menerapkan metode casting maupun forging, akan tetapi machining atau permesinan. Sarjana-sarjana banyak dihasilkan dengan cara dibubut, mirip seperti sekrup. Untuk membuat sebuah sekrup, tentu tak sulit, cukup menaruh benda kerja (mahasiswa) dalam sebuah cakram yang berputar bernama sistem pendidikan, kemudian pahat tajam berupa mata kuliah siap mengulitinya membentuk drat, jadilah dia sekrup. Sedangkan dosen hanyalah operator yang menjalankan mesin bubut tersebut.

Kualitas dari sekrup itu hanya dinilai dari kepresisiannya dalam bentuk IPK, sedangkan kekuatan fisik material maupun chemical composition-nya tak pernah dinilai sebagai sebuah kesatuan. Sebagai sekrup, tentu sarjana tak bisa hidup mandiri, kecuali dia memutuskan untuk hidup sebagai bandul pancing -orang di desaku kadang menjadikan sekrup sebagai bandul pancing-. Untuk hidup, sekrup haruslah menempel pada sebuah sistem entah itu mesin atau sebuah struktur. Di situlah letak sarjana (muda) dalam dunia industri, ia menjadi sekrup kecil dalam sebuah raksasa korporasi yang terus-menerus bergerak tanpa henti mengikuti pasar, modal dan persaingan.

Akan menjadi sekrup yang ikut mengencangkan robot-robot modal asing, atau menjadi sekrup-sekrup gilingan padi yang membantu para petani, itu adalah pilihan. Dan bukan hal yang saya persoalkan.

Namun kesadaran akan hal ini harus dibangun sejak masih menjadi mahasiswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Dokter Undip di kampusnya, menyimpulkan bahwa IPK tidak berhubungan dengan cara seseorang berpikir kritis. Artinya formulasi sistem pendidikan yang selama ini diterapkan belumlah mampu mengukur "kecerdasan" seorang peserta didik. Karena -kembali ke sekrup-, bahwa tidak semua material dapat dibentuk menggunakan metode permesinan.

Tulisan ini saya bikin untuk mengingat kembali tepat setahun yang lalu pada tanggal 11 April 2014 saya dinyatakan lulus menjadi sarjana teknik. Setelah merayakan wisuda pada Mei, sebulan kemudian saya diterima di sebuah pabrik manufaktur mobil di Karawang. Di sana saya harus merasakan sendiri sakitnya ditinju palu godam dengan kenyataan bahwa menjadi Sarjana Teknik yang butuh empat setengah tahun bagi saya untuk menyelesaikannya, dengan kebanggaan baru menyelesaikan skripsi mengenai gasifikasi, tetapi dua bulan kemudian hidup saya dibeli untuk mengotak-atik Microsoft Excel dan Power Point.

Saya juga sering diejek oleh karyawan yang lulus SMA dengan mengatakan "Mas, lulus Sarjana kok nggak canggih pakai excel?". Dan saya cuma terdiam sambil merenungi apakah di sini pekerjaan Sarjana dapat dilakukan oleh orang yang bahkan tak perlu pendidikan formal asalkan lulus kursus mengolah Microfsot Office? Saya juga semakin bertanya-tanya, dengan fenomena banyak di antara teman saya yang ternyata bergelar Sarjana Pendidikan, yang entah kesasar atau keadaan bisa bekerja di pabrik mobil.

Sampai akhirnya, saya bertemu salah seorang Senior Manager di perusahaan tersebut. Beliau yang juga satu almamater dengan saya berkata, "Mas, di sini IPK tidak dipakai. Yang penting nalarnya jalan, cekatan dan cepat belajar". Di situ lah saya semakin yakin, bahwa saya adalah (hanyalah) sekrup.

Kesimpulannya adalah saya berpesan kepada terutama bagi yang masih menjadi mahasiswa muda, pilihlah metode manufaktur-mu sendiri, untuk membentuk dirimu menjadi apa saja sesuai dengan sifat-sifat material yang ada di dalama dirimu. Jangan menyerahkan diri pada sistem pendidikan, atau kamu hanya akan menjadi sekrup-sekrup penguat modal. Menjadi sekrup tentu tak ada salahnya, tetapi jadilah sekrup yang tidak hanya berfungsi sebagai penguat, tetapi sekrup penting yang diperhitungkan.

Sistem pendidikan kita masih lemah, bahkan saya masih menemui seorang sarjana yang masih bingung membedakan antara latar belakang dan rumusan masalah. Berpikir kritis, mampu mengidentifikasi masalah dan mempunyai pola pikir logic dan tertata adalah orang-orang yang dibutuhkan untuk memimpin kelangsungan perusahaan, perangkat pemerintahan atau organisasi-organisasi di dalam masyarakat. Dan itu semua tidak bisa didapatkan hanya melalui ruang kuliah yang mempunyai sistem pendidikan seperti ini. Berorganisasi, berkegiatan, mengikuti event-event 'tak penting' di kampus adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan lebih dari sekadar IPK selama menjalani proses manufakturing pendidikan.
Sekian.

Cawang, 7 April 2015

*Beastudi Etos adalah lembaga beasiswa di bawah Dhompet Dhuafa, di mana saya adalah salah satu penerima manfaatnya. Saat ini Beastudi Etos telah ada di 20 PTN ternama di seluruh Indonesia dan telah mempunyai lebih dari 1000 alumni.

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers